gigihr:
Tulisan ini saya buat untuk menanggapi kejadian pembubaran acara wisudaan FSRD ITB yang dilaksanakan di Plaza Widya pada tanggal 9 April 2011 oleh pihak K3L ITB. Pembubaran itu dilakukan oleh beberapa Satpam ITB dipimpin sendiri oleh ketua K3L, Pak Harman. Beliau membubarkan acara itu ketika acara sudah hampir berakhir. Wisudawan, alumni, dan mahasiswa dari FSRD ITB yang sedang berkumpul untuk berfoto dibubarkan dengan paksa. Akhirnya, Wisudawan, alumni dan mahasiswa FSRD ITB bubar dengan tertib tanpa melakukan perlawanan. Perlu diketahui bahwa penggunaan Plaza Widya pada tanggal tersebut sudah berizin (bersurat izin).
Sebelumnya saya ingin memberi sedikit pemikiran saya mengenai ITB. Kampus ITB dibangun dengan rancangan yang tertata dengan baik. Di tengahnya terdapat garis utama yang dapat dianggap sebagai tulang punggung. Itulah jalur yang memanjang dari tugu kubus melalui boulevard, Tugu Soekarno, Plaza Widya, dan seterusnya sampai ke terowongan Sabuga. Kemudian apabila garis itu kita lanjutkan ke Utara maka akan bersinggungan dengan Gunung Tangkuban Parahu. Sebuah rancangan yang hebat bukan?
Di dalam tulang punggung tersebut, identitas ITB sebagai kampus Sains, Teknologi dan Seni terpancar jelas dari artefak-artefak yang ditempatkan disana. Dari gerbang depan kita disambut dengan sebuah tugu berbentuk kubus dengan gabungan antara kubus yang berkesan statis dan kubus yang berkesan dinamis di dalamnya, In Harmonia Progresio. Kemudian terdapat tiang bendera Indonesia diatas batu (yang sampai sekarang saya tidak tahu alasannya mengapa dicat berwarna biru). Setelah itu, terdapat susunan batu yang bergerak ke Gerbang ITB yang merupakan karya seni dari salah seorang dosen FSRD ITB. Jam utama ITB yang memiliki nilai sejarah, Boulevard yang lapang dan teduh, Tugu Soekarno yang penuh makna. Kemudian kolam berbentuk persegi panjang dengan notasi lagu Indonesia Raya membawa kita ke nasionalisme yang direpresentasikan dengan imaji kepulauan Republik Indonesia di dasar kolam bundar. Tugu Plaza Widya, titik gema yang ajaib, Sunken Court yang berisi ruang-ruang penuh ide, gagasan dan mimpi, berujung pada kehebatan teknologi di terowongan Sabuga.
Wisudaan yang diadakan oleh mahasiswa FSRD ITB selalu melewati tulang punggung ITB itu saat arak-arakan. Dimulai dari lapangan SR kearah jam ITB, menuju ke Sabuga melalui Boulevard, Plaza Widya dan Terowongan. Wisudaan FSRD selalu dibuat dengan kostum dan musik yang meriah dari TPB FSRD. Mahasiswa tingkat dua keatas beserta alumni mengiringi arak-arakan tersebut sehingga arak-arakan tersebut semakin ramai dan meriah. Arak-arakan menjemput wisudawan di Sabuga dan diarak ke Kolam Plaza Widya. Disanalah performance utama dilaksanakan, diiringi musik yang harmonis, dan properti berupa patung yang ukurannya biasanya besar.
Sebagai manusia Indonesia, saya masih percaya dengan hal yang spiritual misalnya perihal aura yang dipancarkan oleh setiap manusia. Aura tersebut adalah spirit atau semangat yang terpancar sesuai dengan kondisi dari sang manusia tersebut. Ketika arak-arakan wisudaan itu terjadi tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang dalam arak-arakan tersebut dalam kondisi yang penuh semangat. Saya membayangkan sebuah warna yang merah menyala memancar dari atas kepala setiap orang tersebut dan memancar ke langit. Apalagi ketika puncak acara dilaksanakan di Plaza Widya, semangat tersebut semakin bergairah dan ditambah dengan bahagia sekaligus haru para wisudawan.
Dengan jumlah orang sebanyak itu, maka pancarannya akan begitu deras dan mengisi langit diatas tulang punggung ITB dengan warna merah yang menyala itu. Saat itulah momen ketika tulang punggung ITB bagai dikobarkan kembali dan semua orang pun merasakan aura itu sehingga menyadari keberadaan ITB sebagai kampus Sains, Teknologi, dan Seni.
Tapi kemarin tidak seindah itu. Bayangkan ketika seorang melonjak dan berteriak karena sedang berbahagia kemudian ada tangan dari depan yang menutup dan menyumpal mulutnya, lalu ada tangan lain yang menggenggam tangan dan kakinya kemudian mengikatnya, kemudia tubuh yang sedang gempita itu kaku, terdiam, diamputasi. Itulah disiplinisasi. Sebuah bagian dari kebudayaan manusia yang membentuk perilaku manusia, tampilan manusia, untuk melakukan apa yang dianggap harus dilakukan, melarang apa yang dapat dilakukan manusia namun dianggap tabu, menjadi manusia disiplin.
Apakah wisudaan FSRD pantas untuk diperlakukan seperti itu? Apabila ITB memang berprinsip untuk menjadi kampus Sains dan Teknologi saja mungkin pantas. Tapi Seni adalah bagian yang tak terlepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan dimana pun itu. Kalau tidak demikian, maka silahkan tanggalkan batik yang dibanggakan itu, lupakan tari-tari tradisi, jangan lagi menyanyi, jangan menonton televisi, jangan menonton film, jangan melakukan apapun, diam saja. Lagipula telah saya sampaikan bahwa wisudaan FSRD ITB tidak begitu saja hanya acara meriah-meriahan semata, jelas tidak. Mahasiswa FSRD ITB memaknainya.
Apalagi sebagai mahasiswa FSRD, dibutuhkan sebuah wahana untuk menerapkan apa yang telah didapat dalam kuliah, wisudaan ini adalah salah satunya. Aspek pendidikan dan penelitian dari Tri Dharma Pendikan pun terlaksana. Kreatifitas Mahasiswa FSRD ITB dalam lingkungan akademis kampus Sains, Teknologi, dan Seni, selama masih dalam koridor peraturan yang berlaku di ITB tentu sangat tidak relevan untuk dibubarkan begitu saja. Dimanakah penghargaan akan kebudayaan apabila kebudayaan yang berkembang dalam lingkungan sekecil kampus saja dibinasakan seperti itu?
Sudah saatnya kita mendisiplinkan hal lain yang lebih penting. Siapapun DIA yang menciptakan rumput pada awal bumi ini ada pasti akan meringis kesal apabila ciptaan-Nya diremehkan kehebatannya oleh seseorang (yang ciptaan DIA juga) yang melarang orang lain menginjak rumput itu. Ah, tapi saya juga tidak tahu. Mungkin saja sekarang DIA sedang sibuk menciptakan sesuatu yang baru.
Gigih R.
Sahabat dari salah satu Mahasiswa FSRD ITB ang. 2008
Sahabat Baik dari S. Rionaldo